Showing posts with label ilmu pendidikan islam. Show all posts
Showing posts with label ilmu pendidikan islam. Show all posts

Tuesday, 20 May 2014

Lingkungan pendidikan Islam

Makalah Lingkungan Pendidikan Islam


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan suatu kebutuhan yang mutlak, yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi untuk maju, sejahtera, bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. Untuk memajukan kehidupan mereka itulah maka pendidikan menjadi sarana utama yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten. Untuk itu dalam makalah ini akan disajikan mengenai pendidikan Islam, baik pengertian dan fungsinya, kemudian mengenai tri pusat pendidikan. Dan dengan adanya penjabaran mengenai pendidikan Islam, kami berharap akan membawa manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca semua pada umumnya.


BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Islam

Di dalam Al-Qur’an, terdapat kata-kata yang terkait dengan pendidikan, yakni: “ Rabba, ‘allama.

وا حفض لهما جناح الذل من الرحمة و قل ربّ إرحمهما كما ربّيا نى صغيرا ( الإسراء : 24 )

Sayangilah keduanya ( orang tuaku ) sebagaimana mereka telah mengasuhku ( mendidikku ) sejak kecil.” ( Q.S. Al-Isra’ : 24 )[1]
علم الإنسان ما لم يعلم ( العلق : 5 )

Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “. ( Q.S. Al-Alaq : 5 )

Dalam bahasa Arab, kata Rabba dan ‘Allama mengandung pengertian sebagai berikut:
1. Kata kerja Rabba, Artinya mengasuh, mendidik
2. Kata kerja ‘Allama, masdarnya ta’liman berarti mengajar

Jadi dapat dari kedua ayat Al-Qur’an di atas, dapat diambil sebuah pengertian bahwa pendidikan Islam itu adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, serta sumber daya manusia manuju terbentuknya manusia yang seuruhnya sesuai dengan syari’at Islam.[2]

Konsep manusia seutuhnya dalam pandangan Islam dapat diformulasikan secara garis besar sebagai pribadi muslim, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa serta memiliki berbagai kemampuan yang teraktualisasi dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan secara baik, positif dan konstruktif.
Demikianlah kualitas produk pendidikan Islam yang diharapkan pantas menjadi Khalifatullah fil ardhi.

B. Fungsi Pendidikan Islam

Dengan adanya pengertian pendidikan Islam seperti telah dijelaskan di atas, fungsi pendidikan Islam sudah cukup jelas, yaitu memelihara dan mengembangkan fitroh dan sumber daya manusia menuju terbentuknya manusia yang sempurna.[3] Untuk memperjelas fungsi pendidikan Islam, dapat ditinjau dari fenomena yang muncul dalam perkembangan peradapan manusia, dengan asumsi bahwa peradapan manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Dalam kajian Antropologi dan Sosiologi, diketahui ada 3 fungsi pendidikan, yakni:
  • Mengembangkan wawasan subyek didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya, sehingga akan muncul kemampuan membaca.
  • Melestarikan nilai – nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya.
  • Memasuki pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan kemajuan hidup ( individu maupun sosial ).[4]
Apabila dari kajian Antropologi dan Sosiologi tersebut dikembalikan pada sudut pandang Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan Islam, maka fungsi pertama dan terutama pendidikan Islam adalah memberikan kemampuan membaca ( Iqra’ ) pada peserta didik. Perintah membaca yang ditulis dalam Q.S Al-Alaq ayat pertama, bukanlah hanya sekedar membaca sebuah tulisan saja, namun membaca fenomena alam dan peristiwa dalam kehidupan.

Sampai disini lebih memperkuat lagi paradigma hubungan humanisme teosentris pendidikan Islam, karena kemampuan membaca sebagai unsur humanisme yang didasari dengan kekuatan spiritual Ilahiyah ( teosentrialisme ) yaitu “ membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia “
( إقرأ بسم ربّك الّذى خلق )

Dengan mengembalikan kajian Antropologi juga sosiologis ke dalam perspektif Al-Qur’an, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah:
  • Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan juga mengenai kebesaran Illahi, sehingga tumbuh kemampuan membawa fenomena alam dan kehidupan, Serta memahami hukum – hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan kemampuan ini akan meningkatkan kreativitas dan produktivitas sebagai implementasi identifikasi diri pada Tuhan “ Pencipta “.
  • Membebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia, baik yang timbul dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar.
  • Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun sosial.[5]
C. Tri Pusat Pendidikan

Dalam GBHN ( Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 ) berkenaan dengan pendidikan dikemukakan: “ Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah “.[6] Dari ketetapan – ketetapan MPR tersebut, maka tri pusat pendidikan adalah Keluarga, sekolah, dan masyarakat.

1. Keluarga

Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan juga utama. Karena itu peran dan pengaruh keluarga sangatlah esensial bagi perkembangan anak. Apa yang diberikan dan dilakukan oleh keluarga akan menjadi sumber perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik perilaku dan pribadi anak. Perlakuan pada masa awal kehidupan anak yang terjadi dalam keluarga sangat memegang peran kunci dalam pembentukan struktur dasar kepribadiannya tersebut.

Sebagian besar waktu anak akan dihabiskan di keluarga, jika kesempatan yang banyak diisi dengan hal-hal yang positif, maka akan memberikan kontribusi yang positif pula untuk anak. Karakteristik hubungan orang tua dan anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya di sekitar mereka. Kepada orang tua, selain si anak memiliki ketergantungan secara materi, ia juga memiliki ikatan psikologis tertentu yang sejak dalam kandungan telah dibangun melalui jalinan kasih sayang dan pengaruh-pengaruh normatif tertentu. Interaksi kehidupan orangtua-anak mewujudkan keadaan yang apa adanya dan bersifat “asli”, tidak seperti hubungan anak dengan gurunya yang mungkin akan selalu menekankan formalitas karena terikat oleh posisi guru yaitu sebagai pendidik yang harus selalu bisa membangun keadaan yang wajar dengan nasihat-nasihat baiknya.

Sedangkan Pengaruh keluarga akan sangat bervariasi tergantung pada bentuk, kualitas, dan intensitas perlakuan yang terjadi serta pada kondisi anak itu sendiri. Namun prinsip-prinsip yang dimiliki orang tua untuk bahan rujukan dalam membimbing anak tersebut tidaklah boleh terlepas dari unsur-unsur pribadi anak yang unik. Peran keluarga lebih banyak bersifat memberikan dukungan baik dalam hal penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif.

Sedangkan Dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku lainnya pengaruh keluarga sangatlah kuat dan bersifat langsung. Keluarga berfungsi sebagai lingkungan kehidupan nyata dalam pengembangan aspek-aspaek perilaku tersebut. Enam hal yang dimungkinkan bisa dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yaitu:

1. Peneladanan perilaku baik secara langsung maupun tidak langsung
2. Memberiakan ganjaran atau hukuman, seperti pujian dan teguran
3. Perintah langsung
4. Menyatakan peraturan-peraturan
5. Penalaran, dan
6. Menyediakan fasilitas atau bahan-bahna dan adegan suasana, seperti membeliakn buku-buku yang diminati anak untuk proses belajarnya.

Keenam cara tersebut juga bisa dilakukan oleh guru dan teman-teman, namun bagaimanapun hubungan orang tua dan anak berbeda dari guru atau orang lain di sekitarnya. Pada umumnya setiap orang tua memiliki gaya atau pola asuh yang berbeda-beda dalam mensikapi anak-anaknya. Orang tua yang otoriter akan menerapkan seperangkat peraturan bagi anaknya secara ketat dan sepihak. Orang tua yang permisif akan cenderung memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Sedangkan orang tua yang otoritatif akan memberikan seperangkat peraturan yang jelas yang akan dilakukan dengan pemahaman, bukan paksaan. Sehingga peraturan-peraturan yang diberikan akan dimengerti si anak dengan pengontrolan orang tua dalam suasana hubungan yang hangat dan dialog yang terbuka.

2. Sekolah

Selama kurang lebih lima sampai dengan enam jam, umumnya anak berada di sekolah yang bukan hanya hadir secara fisik, namun juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah diprogram oleh sekolah. Dengan demikian, sekolah memiliki konribusi yang sangat berarti dalam hal perkembangan anak. Pengalaman interaksi anak dengan gurunya di sekolah akan lebih bermakna bagi anak daripada dengan orang dewasa lainnya. Luasnya lautan ilmu pengetahuan dan aspek-aspek kehidupan manusia lainnya semakin mengukuhkan keterbatasan orang tua dalam mendidik anaknya.

Mengikuti kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan proses penegembangan kognisi anak merupakan kegiatan utama mereka di sekolah. Perkembangan kognisi anak yang bersekolah akan berbeda dengan mereka yang tidak bersekolah . Interaksi pendidikan di sekolah tidak hanya berkenaan dengan perkembangan kognisi anak, namun juga berkenaan dengan perkemangan aspek-aspek pribadi lainnya. Sekolah akan membatasi dan mendefinisikan perilaku, perasaan, dan sikap anak. Di sekolah, mereka akan menemukan perkembangan identitas, keyakinan atau kemampuan diri, image tentang kehidupan dan kemungkinan karir, hubungan-hubungan sosial, serta standar perilaku yang benar dan salah. Semakin cocok antara budaya sekolah dengan nilai-nilai dan harapan-harapan anak, maka akan semakin positif dampak sekolah terhadap perkembangan anak.

Jelaslah fungsi dan tujuan sekolah, yaitu sebagai lembaga yang memfasilitasi proses perkembangan anak secara menyeluruh sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan harapan-harapan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta berperan dalam hal pengembangan aspek sosiomoral dan emosi anak dengan kemampuan guru dalam mendidik dan karakteristik-karakteristik pribadi yang sesuai dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat.

3. Masyarakat

Anak-anak bergaul dalam masyarakat, di sana mereka menyaksikan berbagi peristiwa, di sana mereka melihat orang-orang berperilaku, dan di sana pula mereka akan selalu menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang didapat anak-anak dalam masyarakat tersebut akan memberikan kontribusi tersendiri dalam pembentukan perilaku dan perkembangan pribadinya. Lingkungan masyarakat akan mendukung apa yang telah dikembangkan orang tua di rumah dan guru di sekolah, dan begitu sebaliknya. Jika rumah dan sekolah telah mengembangkan suatu budaya atau nilai yang relevan dengan apa yang dikembangkan di mayarakat , maka sangat mungkin akan muncul pengaruh yang saling mendukung, sehingga peluang pencapaiannyapun akan sangat besar.

Diperlukan ikatan ikatan psikologis yang kuat antara keluarga dengan anak, sehingga keluarga akan selalu dipercaya sebagai tempat yang baik untuk membicarakan dan memahami berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Karena jika ditanya “siapa penanggung jawab kondisi dalam masyarakat?”, pada akhirnya tanggung jawab tersebut akan kembali pada keluarga masing-masing. Baik tidaknya suatu masyarakat akan sangat bergantung pada keluarga-keluarga yang membangun masyarakat tersebut. Orang tua juga harus membimbing anaknya dalam hal pergaulan anak dengan teman sebayanya dan menjaga anak dari pengaruh negatif media informasi yang akhir-akhir ini perannya sangat dominan dalam masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
  • Ahmad, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
  • Sofia Apriyadi, categori “ tri pusat pendidikan “ dalam “
  • http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/02/tentang-tri-pusat-pendidikan/ “ ( Di akses 15 November 2011 ).
  • Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006 
  • http://www.anekamakalah.com/2012/09/makalah-lingkungan-pendidikan-islam.html
_________________
[1] Ahmad, Ideologi Pendidikan Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005 ), h. 24
[2] Ibid, h. 28
[3] Ibid, h. 30
[4] Ibid, h. 33
[5] Ibid, h. 36
[6] Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006 ), h. 34
Read more ...

Kriteria Keberhasilan Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
   A.    Latar Belakang
Pembelajaran merupakan inti dan muara segenap proses pengelolaan pendidikan. Kualitas sebuah lembaga pendidikan hakikatnya diukur dari kualitas proses pembelajarannya, disamping output dan outcome yang dihasilkan. Oleh karena itu kriteria mutu dan keberhasilan pembelajaran seharusnya dibuat secara rinci, sehingga benar-benar measurable and observable (dapat diukur dan diamati). Namun kenyataannya, membuat kriteria dan indikator keberhasilan pembelajaran tidaklah semudah mengukur produktivitas dan kualitas pada bidang pekerjaan lain. Pembelajaran melibatkan unsur siswa dengan segala karakteristiknya, mulai dari latar belakang keluarga, lingkungan, ekonomi, kemampuan, motivasi, dan sebagainya. Selain itu perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah melalui sebuah proses pembelajaran juga tidak nampak dan sulit diukur, terutama pada dimensi nilai dan sikap. Dalam makalah ini kami membahas tentang kriteria keberhasilan yang mencakup dalam ranah kognitif, afektif, psikomotorik dan iman. Dimana ranah tersebut masih dibagi secara rinci sesuai hirarkinya.
B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian kriteria keberhasilan pendidikan Islam?
2.      Apa saja kriteria keberhasilan pendidikan islam ?
BAB II
KRITERIA KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Kriteria Pendidikan Islam
Kriteria keberhasilan pembelajaran, mengandung makna ketuntasan dalam belajar dan ketuntasan dalam proses pembelajaran. Artinya belajar tuntas adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, sikap, atau nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Fungsi ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar selanjutnya. Patokan ketuntasan belajar mengacu pada standard kompetensi dan kompetensi dasar serta indikator yang terdapat dalam kurikulum. Sedangkan ketuntasan dalam pembelajaran berkaitan dengan standar pelaksanaannya yang melibatkan komponen guru dan siswa. 
Kriteria keberhasilan adalah patokan ukuran tingkat pencapaian prestasi belajar yang mengacu pada kompetensi dasar dan standar kompetensi yang ditetapkan yang mencirikan penguasaan konsep atau ketrampilan yang dapat diamati dan diukur.
B.       Kriteria Keberhasilan Pendidikan Islam
Secara umum kriteria keberhasilan pembelajaran adalah: (1) keberhasilan peserta didik menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes ketrampilan yang mencapai tingkat keberhasilan rata-rata 60%; (2) setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan oleh kurikulum, tingkat ketercapaian kompetensi ini ideal 75%; dan (3) ketercapaian keterampilan vokasional atau praktik bergantung pada tingkat resiko dan tingkat kesulitan. Ditetapkan idealnya sebesar 75 %. Penyusunan kriteria keberhasilan pendidikan Islam secara operasional dapat mengikuti taksonomi tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan, yang mendasarkan tujuan pendidikan atas 3 (tiga) domain, yaitu : 1) Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. 2) Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. 3) Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti shalat, wudhu, memandikan jenazah.[1]
Taksonomi Bloom  merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.[2]Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.  Taksonomi ini banyak dianut oleh para pakar pendidikan, termasuk pendidikan Islam.
Klasifikasi dari masing-masing domain tersebut adalah :
1. Domain Kognitif Bloom membagi domain kognitif ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian : Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6) Cognitive domain, mencakup :
a. Knowledge (kemampuan hafalan) Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan pengertian jual beli, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari jual beli, syarat jual beli, dsb.
b. Comprehension (kemampuan pemahaman) Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
c. Aplication (kemampuan penerapan)  Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
d. Analysis (kemampuan menganalisis) Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
e. Synthesis (kemampuan berfikir sintesis) Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
f. Evaluation (kemampuan mengevaluasi) Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.[3]
2. Domain Afektif  Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol. Affective domain, mencakup :
a. Receiving (sikap menyimak) Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
b. Responding (sikap merespon/memberikan tanggapan) Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
c. Valuing ( sikap menilai) Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
d. Organization (sikap mengorganisasi nilai)  Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
e. Characterization by a value or value (sikap mengklasifikasi nilai) Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.[4]
3. Domain Psikomotorik Psychomotor domain, mencakup :
a. Perception (ketrampilan persepsi) Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
b. Set (ketrampilan kesiapan) Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
c. Guided response (ketrampilan merespon) Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
d. Mechanism (ketrampilan mekanis) Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
e.Complex overt respons (ketrampilan nyata berbagai tindakan) Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.[5]
f. Adaptation (ketrampilan beradaptasi) Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
g. Origination (ketrampilan berkreasi/kreatifitas) Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.[6]
Meskipun Taksonomi S. Bloom dan kawan-kawan itu banyak dianut dan diikuti oleh para  pakar pendidikan, tetapi taksonomi ini hendaknya perlu dicermati. Sebab kriteria tersebut hanya terbatas pada sejauhmana peserta didik berhasil mengembangkan dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan keberhasilan pendidikan Islam bukan hanya terbatas pada ketiga dimensi tersebut, tetapi masih perlu dimensi lain yang lebih pokok dan belum dikaji oleh Bloom, yaitu dimensi iman/domain iman (Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, hlm : 72) Domain iman amat diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional saja, tetapi juga menyangkut hal-hal yang irrasional. sebagaimana dengan tujuan umum pendidikan Islam yaitu membentuk Muslim yang sempurna, manusia yang taqwa, manusia yang beriman atau manusia yang beribadah kepada Allah.[7] Di mana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya kecuali didasari dengan iman, yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits yang berisi pokok-pokok ajaran agama Islam. Pendidikan Islam tidak hanya mengenal empiris sensual (empiris yang dapat ditangkap oleh indra) dan empiris logis (empiris yang dapat ditangkap oleh rasio) tetapi lebih dari itu, pendidikan Islam juga mengenal empiris transcendental (empiris yang dapat ditangkap oleh domain iman manusia). Keberhasilan pendidikan Islam, disamping diukur dengan tiga domain (Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik) juga diukur dari sejauhmana keberhasilannya dalam mengembangkan domain iman. Hal ini ditandai dengan kesadaran akan identitasnya sebagai seorang mukmin yang mampu menghadapi tantangan-tantangan yang dapat menggoyahkan iman, dan senantiasa waspada dan selalu meningkatkan kualitas keimanannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pemaparan diatas, maka kami mencoba membuat simpulan sementara sebagai berikut:
1.      Kriteria keberhasilan pendidikan islam secara operasional dapat mengikuti taksonomi tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom dkk. yang mendasarkan 3 domain : Cognitive Domain, Affective Domain,dan Psychomotor Domain
2.      Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
3.      Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
4.      Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
5.      Setiap domain memiliki cakupan, yang mana cakupan itu juga memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan keberhasilan dalam pendidikan islam.   
B. Saran 
Demikianlah makalah yang dapat kami susun, semoga bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Tentunya makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kritik dan sarannya untuk perbaikan makalah yang lebih sempurna lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat , Zakiah. 2008. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Bumi Aksara
Kuswana, Wowo Sunaryo. 2012. Taksonomi Kognitif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Sudjana,Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Ramayulis. 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2010
Tafsir, Ahmad. 2000. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya


[1]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), Hlm. 22-23
[2]Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, (Bandung: PT.  Remaja Rosdakarya, 2012), Hal. 11-12
[3]Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta (Bumi Aksara : 2008), Hlm : 197-201
[4]Ibid, hlm : 201-205
[5]Ibid, hlm: 206-207
[6]Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), Hlm.27
[7]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), Hlm. 51
Read more ...